SMP Muhammadiyah Sampit Kotim Dukung Program MBG Meski Kritik Menu Makanan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Diterima Positif oleh Sekolah di Kotim
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diberikan kepada siswa sekolah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mendapat apresiasi dari pihak sekolah. Meski demikian, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki agar pelaksanaannya semakin optimal.
Mahrida, seorang guru SMP Muhammadiyah Sampit dan penanggung jawab penerimaan MBG di sekolahnya, menyampaikan bahwa secara umum pihak sekolah sangat senang dengan adanya program ini. Namun, ia mengakui ada beberapa keluhan yang muncul dari siswa terkait menu makanan yang diterima.
\”Saat masih berjalan kemarin, Alhamdulillah anak-anak senang sekali dapat MBG. Hanya saja kemarin sempat ada makanan yang sudah dingin karena datangnya siang, sayurnya agak sedikit mentah, dan pernah juga buah yang diterima kondisinya belum matang. Tapi itu langsung kami sampaikan ke pihak panitia dan sudah ditanggapi dengan baik,\” kata Mahrida.
Menurutnya, masalah teknis seperti makanan yang dingin dan keterlambatan pengiriman bisa diperbaiki dengan perencanaan yang lebih matang. Apalagi, pernah ada keterlambatan distribusi hingga 30 menit sampai satu jam. \”Kalau anak-anak sudah masuk jam istirahat tapi MBG belum datang, tentu agak repot. Jadi kami berharap perencanaan distribusinya bisa lebih tepat waktu.\”
Selain itu, Mahrida menekankan bahwa makanan harus lebih layak dikonsumsi, gizinya terukur, dan buahnya matang. Ia menegaskan bahwa pihak sekolah tidak pernah menemukan masalah kesehatan yang disebabkan oleh MBG. Anak-anak yang sakit lebih disebabkan faktor lain seperti demam, bukan karena makanan program tersebut.
\”Untuk soal kesehatan aman-aman saja, tidak ada yang sakit karena MBG. Keluhan hanya sebatas rasa dan kondisi makanan. Itu pun langsung ditindaklanjuti oleh panitia dengan baik,\” ungkapnya.
Dari sisi penerimaan siswa, program MBG sangat bermanfaat. Bahkan, jika ada siswa yang tidak sempat makan di sekolah, makanan tersebut sering dibawa pulang untuk dimakan di rumah. \”Jarang sekali ada makanan tersisa. Kalau pun ada anak yang bawa bekal dari rumah, MBG biasanya mereka simpan untuk dimakan di rumah. Jadi tetap habis,\” ujarnya.
Mahrida berharap program MBG tetap berlanjut dan mendapat perbaikan ke depan, mengingat manfaatnya sangat besar bagi siswa. \”Sekolah kami merasa senang sekali dapat kesempatan menerima MBG. Mudah-mudahan ke depan perencanaannya lebih rapi dan nutrisinya makin baik untuk anak-anak,\” pungkasnya.
Masalah yang Sering Terjadi dalam Pelaksanaan MBG
-
Makanan Dingin
Beberapa kali makanan yang diterima siswa dalam kondisi dingin, terutama ketika pengiriman terlambat. Hal ini memengaruhi kenyamanan siswa saat mengonsumsinya. -
Sayuran Mentah
Sayuran yang diterima kadang masih mentah, sehingga kurang enak dan tidak sesuai harapan. -
Buah yang Belum Matang
Ada kalanya buah yang diberikan belum matang, sehingga menimbulkan keluhan dari siswa. -
Keterlambatan Pengiriman
Keterlambatan distribusi hingga 30 menit hingga satu jam sering terjadi, membuat siswa tidak bisa makan tepat waktu selama jam istirahat.
Solusi yang Diharapkan
-
Perencanaan yang Lebih Matang
Perlu dilakukan perencanaan yang lebih baik untuk memastikan pengiriman tepat waktu dan kualitas makanan tetap terjaga. -
Peningkatan Kualitas Makanan
Makanan harus lebih layak dikonsumsi, gizinya terukur, dan buahnya matang agar siswa merasa nyaman. -
Komunikasi dengan Panitia
Pihak sekolah telah aktif memberikan masukan kepada panitia, dan hal ini direspons dengan baik.
