Puisi Faris Al Faisal
Kemarau
Kemarau yang terasa panjang dan menguras tenaga
dalam desau angin, aku
menghela udara yang penuh asap
batang rumput yang lesu
reruntuk gambut yang membelah tanah luka
yang tak juga menutup
Laut yang kering mulai bergerak ke darat
serbuknya menempel di tubuh
kampung yang berkeringat
gelas-gelas kopi yang belum dicuci
anak-anak yang telanjang
menatap ekor anjing kurus
yang mengibas lalat-lalat hijau
Sebelum kau menjadi sunyi
apakah
masih ada orkestra?
Aku bertanya,
hujan
kapan kau akan menyanyi di sini?
Menu Musim Kemarau
Pecahan es batu
mengembun di gelas kaca
kopi dingin yang melekat pada blazer
mengembara membentur gua
kuteguk bahagia
Dan sore yang mulai redup
mengempaskan gerah
burung-burung tak lagi murung
bulu punggungnya merah
seperti gaun yang kau pakai
Di dekatku, duduk angan-angan
sebuah keinginan
memotret senja di ranting kemarau
agar tak terbang rindu
tak hilang cinta
Maka, jangan risau
melihat bulan bersampur biru
aku tak ke mana
aku ingin menua bersamamu
sampai menutup daun-daun mataku
Uban
Justru karena kemarau dan hujan
ranting-ranting rambutku memutih
kepala pun seperti bukit kapur
tergerus dimakan umur
Mengapa mesti bersedih
batang mata meleleh berderai cair
kerinduan melonjak
teringat betapa dulu terasa sia-sia
Akan ada waktu, akan ada rindu
pandang meluas di mataku
mencintai hal baru
seperti mencintai kamu
Faris Al Faisal
Penyair. Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Indramayu dan Ketua Lembaga Basa lan Sastra Dermayu. Penerima Anugerah Seni dan Budaya Kategori Bahasa dari Pemerintah Kabupaten Indramayu (2024). Puisi-puisinya telah tersiar di surat kabar Indonesia dan Malaysia, serta diterbitkan dalam sejumlah kumpulan puisi tunggal dan antologi bersama.
