Puisi Faris Al Faisal
1 min read

Puisi Faris Al Faisal

Kemarau

Kemarau yang terasa panjang dan menguras tenaga

dalam desau angin, aku

menghela udara yang penuh asap

batang rumput yang lesu

reruntuk gambut yang membelah tanah luka

yang tak juga menutup

Laut yang kering mulai bergerak ke darat

serbuknya menempel di tubuh

kampung yang berkeringat

gelas-gelas kopi yang belum dicuci

anak-anak yang telanjang

menatap ekor anjing kurus

yang mengibas lalat-lalat hijau

Sebelum kau menjadi sunyi

apakah

masih ada orkestra?

Aku bertanya,

hujan

kapan kau akan menyanyi di sini?

Menu Musim Kemarau

Pecahan es batu

mengembun di gelas kaca

kopi dingin yang melekat pada blazer

mengembara membentur gua

kuteguk bahagia

Dan sore yang mulai redup

mengempaskan gerah

burung-burung tak lagi murung

bulu punggungnya merah

seperti gaun yang kau pakai

Di dekatku, duduk angan-angan

sebuah keinginan

memotret senja di ranting kemarau

agar tak terbang rindu

tak hilang cinta

Maka, jangan risau

melihat bulan bersampur biru

aku tak ke mana

aku ingin menua bersamamu

sampai menutup daun-daun mataku

Uban

Justru karena kemarau dan hujan

ranting-ranting rambutku memutih

kepala pun seperti bukit kapur

tergerus dimakan umur

Mengapa mesti bersedih

batang mata meleleh berderai cair

kerinduan melonjak

teringat betapa dulu terasa sia-sia

Akan ada waktu, akan ada rindu

pandang meluas di mataku

mencintai hal baru

seperti mencintai kamu

Faris Al Faisal

Penyair. Ke­tua Komite Sastra Dewan Kesenian Indramayu dan Ke­tua Lembaga Basa lan Sastra Dermayu. Penerima Anugerah Seni dan Budaya Kategori Bahasa dari Peme­rintah Kabupaten Indramayu (2024). Puisi-puisinya telah tersiar di surat kabar Indonesia dan Malaysia, serta diterbitkan dalam sejumlah kumpulan puisi tunggal dan antologi bersama.






Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung bersama kami, dapatkan kupon diskon untuk isi ulang game murah! Nikmati fitur menarik kami:

0

Subtotal