Petani Rumput Laut Lifuleo Keluhkan Hasil Panen Menurun
6 mins read

Petani Rumput Laut Lifuleo Keluhkan Hasil Panen Menurun

Keluhan Petani Rumput Laut di Desa Lifuleo

Petani rumput laut di Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang mengeluhkan penurunan hasil panen. Wilayah pesisir Oekono dilaporkan mengalami gagal panen akibat perubahan cuaca. Fenomena ini sempat dikaitkan dengan dugaan pencemaran limbah dari PLTU Timor 1 yang beroperasi.

Kepala Desa Lifuleo, Swingli Say, menjelaskan bahwa penurunan hasil rumput laut memang terjadi di beberapa titik pesisir Desa Lifuleo. Ia menegaskan bahwa penurunan tersebut tidak bisa hanya disebabkan oleh limbah PLTU saja, tetapi juga faktor alam yang berubah-ubah bisa memengaruhi.

Swingli Say menyebut bahwa sebelumnya PLTU menyalurkan 400 kilogram bibit rumput laut sebagai komitmen bersama warga untuk menyikapi dugaan penurunan hasil budidaya akibat limbah yang diduga berasal dari PLTU Timor 1. Bibit yang diberikan tersebut dilakukan uji coba selama 30 hari di wilayah pesisir Oekono.

“Pemberian bibit ini hanya untuk uji coba. Ini tentunya ingin tahu apakah benar penurunan hasil karena limbah atau justru karena faktor alam, karena seperti suhu air laut yang tinggi, arus yang berubah, atau penyakit, bisa membuat hasil produksi menurun,” ujar Swingli, Sabtu (11/10/2025).

Perbedaan Hasil Panen dan Upaya Petani

Perbedaan hasil panen antara Oeno dan Oekono menjadi perhatian serius bagi masyarakat dan pemerintah desa. Sam Nat Petrus Mada, petani rumput laut Wilayah Oeno, menjelaskan bahwa sebelumnya bibit uji coba dilakukan di Oekono, dimana wilayah ini berbatasan langsung dengan kawasan PLTU Timor 1, sementara wilayah pesisir lain di Lifuleo, justru menunjukkan hasil panen yang relatif stabil dan baik.

“Kalau di Oeno hasilnya bagus dan stabil, tapi di Oekono berkurang,” tambahnya.

Sam menuturkan bahwa kondisi perairan di wilayahnya masih sangat baik untuk budidaya. “Kalau di Oeno hasilnya bagus, rumput laut tumbuh normal dan tidak kena penyakit. Tapi di Oekono memang agak berkurang, faktor alam juga bisa menjadi penyebab produksi menurun, agar-agar kalau air laut suhunya terlalu panas juga tidak cocok. Bukan berarti gagal total, tetap ada hasilnya, tapi hasil atau volumenya menurun,” jelas Sam.

Ia menambahkan, dari hasil pembagian bibit kepada petani rumput laut ini, budidaya yang dilakukan warga juga ada yang berhasil. Namun para petani tidak langsung membudidayakan di wilayah Oekono, beberapa petani dari Oekono bahkan membawa sebagian bibit uji coba tersebut ke wilayah Oeno, untuk dibudidayakan bibit rumput laut mereka, dengan harapan pertumbuhannya lebih baik.

Uji Coba Bibit dan Pemantauan Lapangan

Pembagian 400 Kilogram bibit terhadap 4 Kelompok Petani Rumput laut dilakukan bertujuan untuk memastikan bahwa hasil penurunan produksi bukan semata karena faktor limbah saja, melainkan perlu dilihat juga dari faktor lain dan kondisi alam perairan.

Sam menjelaskan bantuan tersebut bukan untuk produksi massal, tetapi untuk penelitian lapangan selama 30 hari. \”Tentunya jika hasil uji coba menunjukkan pertumbuhan yang baik, maka bibit unggul tersebut akan diperbanyak dan dibagikan ke kelompok petani lainnya,\” ucap Sam.

Dalam kesempatan itu, Kepala Desa Lifuleo, Swingli Say, juga menekankan pentingnya perencanaan yang matang sebelum mengajukan usulan lanjutan ke PLN atau pihak pemerintah daerah. “Dengan perencanaan yang jelas, kita bisa bergerak bersama dan memastikan program ini benar-benar membantu petani,” tambahnya.

Dukungan PLN Melalui Program CSR

Selain mendukung uji coba rumput laut, pihak PLN melalui program tanggung jawab sosial (CSR) juga memberikan bantuan kepada masyarakat di Desa Lifuleo. Kepala Desa Lifuleo, Swingli Say, juga mengatakan kelompok perempuan di desa tersebut menerima bantuan berupa kompor, mesin pengolahan agar-agar, dan mesin pengolahan ikan, disertai pelatihan praktik selama lima hari.

Bantuan yang diharapkan dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, terutama kaum perempuan pesisir, agar bisa memanfaatkan potensi yang ada di wilayah mereka.

Langkah Pemerintah Daerah dan Peneliti

Sebelumnya, Bupati Kupang Yosef Lede telah menggelar pertemuan dengan para petani, PLN, dan tim akademisi. Dalam pertemuan tersebut, hasil penelitian menunjukkan bahwa kerusakan rumput laut di beberapa titik tidak hanya disebabkan oleh pencemaran saja, melainkan juga faktor lain seperti usia rumput laut yang sudah tua, arus laut dan penyakit ice-ice pada rumput laut itu sendiri.

Dari hasil penelitian masalah ini bukan hanya terjadi di Desa Lifuleo saja, tetapi juga terjadi di berbagai daerah pesisir Indonesia. Sebagai langkah pemulihan, pada pertemuan tersebut peneliti dari tim akademisi mengusulkan penggunaan bibit unggul dari Thailand yang lebih tahan penyakit.

Penyakit ice-ice dikenal sebagai salah satu penyebab utama penurunan kualitas rumput laut. Penyakit ini membuat rumput laut berlendir, memutih, dan akhirnya membusuk. Beberapa penelitian menunjukkan, penyakit tersebut biasanya muncul akibat perubahan suhu dan kualitas air laut.

Bupati Kupang pun menyampaikan komitmen pemerintah daerah untuk memulihkan kembali sektor budidaya rumput laut, khususnya di Desa Lifuleo yang menjadi sumber utama penghidupan warga. Sebagai tindak lanjut hal tersebut, Pihak PLTU Timor 1 menyediakan 400 kilogram bibit unggul sebagai bagian dari uji coba yang kini sedang dilakukan di Lifuleo.

Harapan Petani dan Pemerintah Desa

Masyarakat Lifuleo kini menaruh harapan besar pada hasil uji coba tersebut. Bila hasilnya positif, maka akan menjadi titik awal pemulihan ekonomi bagi petani pesisir Kupang Barat.

“Sebagian besar masyarakat di sini menggantungkan hidup dari laut. Kalau rumput laut gagal panen, ekonomi desa ikut turun,” ujar Sam Nat Petrus Mada.

Swingli Say menegaskan, pihaknya bersama PLN, pemerintah daerah akan terus mendampingi masyarakat agar kegiatan budidaya rumput laut kembali produktif. Sam, juga menambahkan bahwa pemberian bantuan Bibit tidak hanya untuk uji coba lagi, tetapi penambahan bibit untuk masyarakat langsung bekerja.

\”Kan ini uji coba sudah 400 kilo yah, harapan masyarakat itu kalau bisa bukan untuk uji coba lagi, kalau bisa untuk langsung bekerja,\” ungkapnya.

Pada Kesempatan tersebut juga, Swingly menambahkan, idealnya setiap kepala keluarga membutuhkan sekitar 500 kilogram bibit, setara dengan 10 ton untuk seluruh kelompok, dengan total biaya sekitar Rp70 juta.

“Kami tetap optimistis. Kalau semua pihak bekerja sama, pasti ada hasil. Yang penting kita jujur melihat persoalan, apakah karena alam, atau lingkungan supaya solusi yang diambil tepat,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung bersama kami, dapatkan kupon diskon untuk isi ulang game murah! Nikmati fitur menarik kami:

0

Subtotal