Kembali Tengok Nasib Emiten Baru MSCI yang Jadi Incaran Asing
Perubahan Kepemilikan Asing di Saham yang Masuk dan Keluar MSCI
Pada bulan terakhir, terjadi perubahan signifikan dalam kepemilikan asing terhadap sejumlah saham yang masuk atau keluar dari indeks MSCI. Hal ini menjadi fokus utama para investor dan analis pasar modal.
Beberapa emiten baru saja masuk ke dalam MSCI Global Standard Indexes pada Agustus 2025, seperti PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Sementara itu, beberapa saham lainnya, seperti PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), harus beralih ke kategori MSCI Small Cap Indexes.
Perubahan Kepemilikan Asing
Berdasarkan data Bloomberg, porsi kepemilikan asing terhadap DSSA meningkat sebesar 0,21% dibandingkan tanggal 27 Agustus 2025. Sedangkan untuk CUAN, porsi kepemilikan asing naik 0,36%. Di sisi lain, saham MBMA mengalami penurunan sebesar 0,18%, sementara PNLF turun 0,04%.
Investor lokal juga menunjukkan perubahan. Untuk DSSA, jumlah investor lokal tetap stabil, sedangkan untuk CUAN hanya naik 0,02%. Di saham MBMA, investor lokal meningkat 0,01%, dan di PNLF, investor lokal bertambah 0,07%.
Selain itu, ada aliran dana asing yang masuk ke CUAN sebesar Rp 253,68 miliar di pasar reguler. MBMA juga mendapat pembelian asing sebesar Rp 179,23 miliar. Namun, DSSA justru dijual oleh investor asing sebesar Rp 99,66 miliar, begitu pula dengan PNLF yang dijual sebesar Rp 82,83 miliar.
Penjelasan dari Analis Pasar
Harry Su, Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa saham-saham yang baru masuk ke MSCI, seperti DSSA dan CUAN, mengalami kenaikan porsi kepemilikan asing karena adanya arus beli dari dana pasif dan aktif yang mengikuti indeks. Sebaliknya, saham yang didepak dari indeks seperti MBMA dan PNLF menghadapi tekanan jual asing.
Menurut Harry, efek indeks menyebabkan peningkatan likuiditas dan harga saham yang masuk MSCI. \”Sehingga, likuiditas dan harga mereka biasanya terdorong naik,\” ujarnya.
Sementara itu, saham yang keluar dari MSCI cenderung mengalami penurunan volume perdagangan dan tekanan pada harga. Hal ini terlihat dari berkurangnya porsi kepemilikan asing dalam data KSEI setelah rebalancing.
Prospek dan Rekomendasi
Dari segi prospek fundamental, DSSA tengah melakukan transisi model bisnis dari ketergantungan pada batu bara menuju infrastruktur digital dan komunikasi dalam ekosistem Sinarmas. Manajemen DSSA menargetkan kontribusi pendapatan dari segmen non-batubara mencapai lebih dari 30% dalam 3–5 tahun ke depan.
Harry merekomendasikan speculative buy untuk DSSA dengan target harga Rp 150.000 per saham. \”Masuknya saham ini ke dalam MSCI Indonesia Global Standard Index baru-baru ini telah memberikan dorongan likuiditas, momentum yang kuat, serta meningkatkan minat investor, sekaligus menarik aliran dana asing,\” tambahnya.
Pola Transaksi dan Potensi Saat Ini
Fath Aliansyah Budiman, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, melihat bahwa pola kenaikan transaksi normalnya akan terlihat pada saham-saham yang potensi masuk di periode menuju announcement date dan saham yang masuk dalam MSCI di H-1 effective date.
Saham-saham yang masuk dan keluar indeks biasanya akan mengalami normalisasi dari sisi transaksi setelah beberapa hari rebalancing, apabila tidak ada hal lain yang bisa jadi pemicu inflow lebih besar. Dengan pola transaksi belakangan ini, DSSA dan BREN berpotensi masih bertahan di indeks MSCI pada rebalancing selanjutnya lantaran likuiditas dan harga mereka yang masih terjaga.
\”Secara umum, emiten baru yang berpotensi masuk dari keadaan saat ini adalah BRMS, BREN & EMTK,\” ujarnya.
