Koleksi Kain Nusantara di Fashion Week Plaza Indonesia
4 mins read

Koleksi Kain Nusantara di Fashion Week Plaza Indonesia



Wastra, atau kain tradisional Indonesia, kini tidak lagi menjadi sekadar kain yang hanya digunakan dalam acara upacara adat. Berkat kontribusi para desainer, merek, hingga penggemar mode di Tanah Air, wastra telah mampu menembus hati dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Masa-masa ragu untuk mengenakan kain tradisional kini mulai sirna. Para perancang mode semakin berani bereksplorasi dalam mengkreasikan wastra, baik itu batik maupun tenun. Hasilnya adalah karya seni tekstil yang mampu menarik minat berbagai kalangan, termasuk generasi muda.

Ragam peragaan busana, termasuk Plaza Indonesia Fashion Week, menjadi panggung bagi para desainer dan brand untuk memperkenalkan kreasi mereka. Di sini, wastra diperlihatkan sebagai elemen penting dalam dunia fesyen modern.



Plaza Indonesia Fashion Week yang digelar pada 28 September hingga 5 Oktober 2025 lalu menjadi ajang yang sukses memperkenalkan kembali wastra kepada publik. Puluhan merek dengan identitas mode masing-masing berhasil memukau para penonton di area Warehouse. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah deretan fashion show yang memadukan kain-kain tradisional dengan gaya modern.

Setiap koleksi memiliki nuansa yang berbeda. Sentuhan tangan unik para desainer dan kreativitas yang tinggi menciptakan pentas seni wastra yang sangat apik. Hal ini membuktikan bahwa wastra bisa dijahit menjadi apa saja, dipadukan dengan apa pun, dan dikenakan di situasi mana pun.

Berikut adalah beberapa jenama fashion yang memperkenalkan wastra Nusantara di panggung Plaza Indonesia Fashion Week:

BINhouse



Desainer senior BINhouse, Obin, menyampaikan bahwa ia ingin menciptakan sesuatu yang fun dan hidup. Ia tidak ingin menampilkan peragaan busana yang terlalu serius. Dengan melihat daftar model yang akan tampil dan kain batik serta busana yang dirancang, ia memutuskan untuk membuat fashion show yang dinamis.

Judul dari koleksi tersebut adalah Lenggak Lenggok. Koleksi ini menampilkan puluhan busana yang memadukan kain batik dan lurik dengan berbagai atasan. Dari kebaya hingga blus dan tunik, semua busana hadir dalam warna-warna yang beragam, seperti merah cerah, kuning terang, hitam, cokelat, krem, dan putih.

Yang menarik, para model tidak melakukan catwalk biasa. Mereka justru berjoget riang mengikuti alunan musik, seperti lagu Garam & Madu oleh Tenxi dan Naykilla. Ini membuat para penonton ikut bergoyang tanpa merasa malu.

KRATON by Auguste Soesastro



Terinspirasi dari magis Pulau Dewata, desainer Auguste Soesastro menunjukkan bahwa sarung tenun Bali bisa dikenakan di berbagai situasi. Dari busana smart casual hingga evening wear dan formal, koleksi bertajuk “Archipelago Cruise” merupakan perpaduan antara kain tradisional Bali dan gaya fesyen Barat.

Material yang digunakan dipilih untuk cuaca tropis, seperti silk dan linen. Warna netral seperti putih, abu-abu, dan krem mendominasi koleksi ini.

IKAT Indonesia by Didiet Maulana



Dalam koleksi bertajuk “The Isle of Reverie”, Didiet Maulana menghadirkan motif tenun dalam berbagai siluet baju. IKAT Indonesia memamerkan 30 tampilan yang terdiri dari 22 busana perempuan dan delapan busana laki-laki.

Warna-warna bumi seperti terracotta, maroon, dan cokelat menjadi pilihan utama. Didiet juga memberdayakan perajin lokal dengan menghadirkan aksesori karya mereka di atas runway.

Julianto for Iwan Tirta Private Collection



Iwan Tirta Private Collection bekerja sama dengan desainer Julianto dalam merancang koleksi bertajuk “Jagad Rasa”. Koleksi ini mempertahankan motif batik Iwan Tirta yang besar dan prominen, namun dibalut dengan siluet formal dan evening wear kontemporer.

Motif batik Slogan, seperti burung, daun, dan bunga-bunga, menjadi dasar dari koleksi ini.

Parang Kencana



Koleksi “Shiki” oleh Parang Kencana menggabungkan budaya Indonesia dan Jepang. Peragaan busana ini mengisahkan empat musim: semi, panas, gugur, dan dingin. Motif khas kimono Jepang dilukis dengan metode pembatikan.

Setiap musim direpresentasikan dengan warna dan siluet yang berbeda. Misalnya, musim semi menampilkan blus berpotongan leher kebaya dengan warna lembut, sedangkan musim dingin menggunakan warna gelap dan bahan corduroy.

Mel Ahyar Archipelago



Mel Ahyar Archipelago memilih kain Sasirangan dari Kalimantan Selatan sebagai muse-nya. Koleksi bertajuk Tanah Laut ini mengangkat busana pahlawan dan bangsawan Kesultanan Banjar.

Untuk melengkapi setiap tampilan, Mel Ahyar berkolaborasi dengan perajin setempat dalam menghadirkan tas anyaman unik.

Wilsen Willim



Wilsen Willim menutup PIFW dengan koleksi yang memadukan elegansi kontemporer dengan kain batik. Koleksinya didominasi oleh blus berkerah tinggi cheongsam yang dimodifikasi.

Setiap busana memiliki garis pundak tajam dan detail motif yang memikat mata. Palet monokrom hitam-putih dipadukan dengan sentuhan warna berani seperti merah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung bersama kami, dapatkan kupon diskon untuk isi ulang game murah! Nikmati fitur menarik kami:

0

Subtotal