Merkuri Terkandung, Delapan Kota Prancis Larang Tuna Kaleng di Sekolah
3 mins read

Merkuri Terkandung, Delapan Kota Prancis Larang Tuna Kaleng di Sekolah

Larangan Tuna Kaleng di Sekolah-sekolah Prancis

Delapan kota di Prancis, termasuk Paris dan Lyon, baru-baru ini melarang penggunaan tuna kaleng di kantin sekolah. Keputusan ini diambil setelah sebuah studi menemukan kadar merkuri yang sangat tinggi pada produk tersebut. Langkah ini bertujuan untuk melindungi kesehatan anak-anak dari paparan bahan berbahaya yang terkandung dalam makanan laut.

Merkuri adalah logam berat yang umum ditemukan pada makanan laut. Jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, zat ini bisa menimbulkan keracunan dengan gejala seperti gangguan gerak saat berjalan atau menulis, kelemahan otot, hingga ruam pada kulit. Pada bayi dan anak-anak, paparan metilmerkuri, yakni bentuk merkuri yang paling beracun, bahkan dapat mengganggu perkembangan otak. Dampaknya bisa berupa penurunan kecerdasan, kesulitan mengingat dan berpikir, serta masalah keterampilan motorik.

Penelitian yang dilakukan oleh kelompok kampanye Bloom dan Foodwatch menguji 148 kaleng tuna dari lima negara Eropa. Hasilnya mengejutkan banyak pihak, bahwa semua sampel mengandung merkuri, dan 57 persen di antaranya melampaui batas maksimal 0,3 mg/kg yang ditetapkan oleh Uni Eropa. Bahkan, ada satu kaleng yang dibeli di Paris mengandung merkuri 13 kali lipat lebih tinggi dari batas tersebut.

Mengapa Tuna Bisa Mengandung Merkuri?

Ketika hewan kecil dimakan oleh hewan yang lebih besar, lalu dimakan lagi oleh predator yang lebih besar, kontaminan persisten seperti metilmerkuri akan menumpuk di jaringan tubuh predator. Akibatnya, predator puncak seperti ikan tuna menyimpan merkuri dan racun lain dalam kadar yang sangat tinggi. Hal ini tidak hanya berbahaya bagi tuna—keracunan merkuri dapat merusak sistem saraf pusat, menyebabkan kesulitan berenang dan menangkap mangsa—tetapi juga berdampak pada manusia yang mengonsumsi dagingnya.

Keracunan merkuri pada manusia mirip dengan yang dialami tuna. Kadar tinggi dapat menyebabkan kelemahan, tremor, perubahan suasana hati, dan gangguan kognitif. Pada kadar yang sangat tinggi, merkuri dapat menimbulkan penyakit Minamata, gangguan saraf parah yang pertama kali diidentifikasi ketika kucing liar di Jepang mengalami kejang dan mati. Bahkan pada kadar sedang, asupan merkuri dalam makanan dapat menyebabkan cacat lahir dan kerusakan saraf pada otak anak yang sedang berkembang. Karena itu, banyak ahli gizi menyarankan agar orang membatasi konsumsi tuna.

Tuna Kaleng untuk Anak, Aman atau Tidak?

Tuna kaleng adalah salah satu makanan laut paling populer di dunia. Rasanya praktis, tahan lama, dan bergizi. Namun, tidak semua jenis tuna aman untuk anak-anak. Tuna kaleng dari jenis seperti cakalang cenderung lebih rendah merkuri. Sebaiknya, tuna albacore atau white tuna yang ukurannya lebih besar bisa mengandung kadar merkuri yang lebih tinggi.

Rekomendasi para ahli, batasi konsumsi tuna albacore, maksimal 4–6 ons per minggu, terutama untuk anak-anak dan ibu hamil. Cara lain untuk tetap aman adalah dengan mengurangi porsi, memilih merek yang transparan soal uji merkuri, atau ikan kalengan lainnya seperti salmon, makerel, hingga sarden kaleng.

Selain itu, penting juga menyajikan tuna bersama makanan sehat lain, seperti buah, sayur, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh, agar kebutuhan gizi anak tetap seimbang. Tuna kaleng memang bergizi, satu kaleng bisa mengandung 41 gram protein, vitamin D, zat besi, hingga kalium. Namun, jika khawatir dengan merkuri, ada pilihan lain yang tak kalah sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung bersama kami, dapatkan kupon diskon untuk isi ulang game murah! Nikmati fitur menarik kami:

0

Subtotal