Polres Parigi Moutong Gelar Gerakan Pangan Murah, Bantu Ribuan Warga Hadapi Kenaikan Harga Beras
Gerakan Pangan Murah: Solusi untuk Stabilitas Harga Pangan di Parigi Moutong
Di sebuah pagi yang cerah di Kelurahan Kampal, Kecamatan Parigi, antrean panjang terlihat mengular. Warga dari berbagai usia datang membawa kantong belanja dan wadah plastik, berharap mendapatkan beras dengan harga terjangkau. Pemandangan serupa juga terjadi di Desa Lemo, Kecamatan Ampibabo. Di dua titik inilah Polres Parigi Moutong bersama Perum Bulog menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM), sebuah inisiatif untuk menjaga stabilitas harga pangan dan meringankan beban masyarakat.
Program yang digelar pada hari Kamis (2/10) itu berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.00 Wita. Dalam tempo empat jam, total 1 ton beras atau setara 200 sak berhasil disalurkan kepada masyarakat. Harga yang ditawarkan jauh lebih rendah dari pasar, yakni Rp 12.000 per kilogram atau Rp 60.000 per sak berisi lima kilogram.
Kapolres Parigi Moutong, AKBP Hendrawan AN., S.I.K., M.H., menyebut langkah ini bukan sekadar distribusi beras, melainkan upaya strategis dalam menjaga ketahanan pangan daerah. “Kami ingin memastikan masyarakat tidak kesulitan memperoleh beras dengan harga terjangkau. Ini bagian dari upaya kami menjaga stabilitas pangan,” ujarnya.
Beras murah memang menjadi kebutuhan mendesak di tengah gejolak harga pangan nasional. Sejak beberapa bulan terakhir, harga beras mengalami fluktuasi akibat cuaca ekstrem dan distribusi yang tersendat di sejumlah wilayah. Bagi keluarga dengan pendapatan terbatas, selisih harga Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per kilogram dapat menjadi beban signifikan.
Maka tak heran bila antusiasme warga sangat tinggi. Beberapa ibu rumah tangga mengaku datang lebih awal agar tidak kehabisan. “Kalau beli di pasar, harganya sudah tembus Rp 70.000 per sak. Dengan harga dari Polres ini, kami bisa hemat banyak,” kata Nurhayati, seorang warga Kampal, sambil memeluk erat sak beras lima kilogram yang baru dibelinya.
Kegiatan berlangsung tertib, tanpa insiden. Aparat kepolisian dan petugas Bulog mengatur jalannya distribusi dengan sistem kupon agar pembagian merata. Masyarakat menyambutnya dengan positif, sebagian bahkan berharap program ini tidak berhenti di dua lokasi saja, melainkan digelar secara berkala di kecamatan lain.
Bagi Polres Parigi Moutong, GPM bukan hanya sekadar program sosial, melainkan bagian dari strategi jangka panjang dalam memperkuat kepercayaan publik. Ketika harga pangan menjadi isu nasional, langkah nyata seperti ini menghadirkan dampak langsung yang bisa dirasakan masyarakat kecil.
Pengamat ekonomi lokal menilai kolaborasi antara Polri dan Bulog bisa menjadi model di daerah lain. “Stabilitas harga beras adalah fondasi ketahanan pangan. Jika masyarakat bisa membeli beras dengan harga terjangkau, efeknya akan langsung terlihat pada daya beli dan tingkat konsumsi rumah tangga,” ujar seorang akademisi Universitas Tadulako.
Di akhir acara, tumpukan karung beras yang semula memenuhi halaman hanya menyisakan beberapa sak. Senyum warga yang pulang membawa beras murah menjadi bukti sederhana bahwa program seperti ini menyentuh kebutuhan paling dasar masyarakat.
Ke depan, Polres Parigi Moutong berharap Gerakan Pangan Murah dapat menjangkau lebih luas, menjadi semacam jaring pengaman sosial di tengah dinamika ekonomi. Karena di balik sekarung beras seharga Rp 60.000, tersimpan harapan: bahwa stabilitas pangan bukan hanya angka di laporan statistik, melainkan kenyataan di meja makan setiap keluarga.
Manfaat dan Dampak Program GPM
- Meningkatkan akses pangan: Program ini memberikan akses mudah bagi masyarakat untuk memperoleh beras dengan harga yang lebih terjangkau.
- Menjaga stabilitas harga: Dengan harga yang lebih rendah dari pasar, program ini membantu mengurangi tekanan pada masyarakat.
- Membangun kepercayaan publik: Keterlibatan aparat kepolisian dan Bulog menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga kesejahteraan rakyat.
- Mendorong partisipasi masyarakat: Antusiasme warga menunjukkan bahwa mereka merasa didengar dan diperhatikan oleh pemerintah.
- Menjadi contoh bagi daerah lain: Kolaborasi antara lembaga pemerintah dan instansi terkait bisa menjadi model untuk daerah-daerah lain.
Tantangan dan Langkah Ke Depan
Meskipun program ini sukses, masih ada tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah distribusi yang merata. Meski sistem kupon telah diterapkan, perlu dipertimbangkan metode lain untuk memastikan semua lapisan masyarakat bisa mendapat manfaat.
Selain itu, pengawasan terhadap kualitas beras juga penting. Pastikan bahwa beras yang diberikan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Selain itu, pemantauan terhadap kebutuhan masyarakat perlu dilakukan secara berkala agar program tetap relevan dan efektif.
Polres Parigi Moutong berkomitmen untuk terus memperluas cakupan program GPM. Diharapkan, ke depan, program ini tidak hanya berlangsung di dua lokasi, tetapi bisa mencakup seluruh wilayah kecamatan. Dengan demikian, setiap keluarga bisa merasakan manfaatnya secara langsung.
