Prosesi Tri Harta Iman ke-37 di Atambua: Jalan Menuju Pertobatan dan Pembaruan Hubungan dengan Allah
Prosesi Tri Harta Iman ke-37 di Atambua: Pembaruan Iman dan Kebersamaan Umat Katolik
Ribuan umat Katolik dari Paroki Katedral Santa Maria Immaculata Atambua, Keuskupan Atambua, mengikuti Prosesi Tri Harta Iman ke-37 pada Selasa, 7 Oktober 2025. Kegiatan religius tahunan ini menjadi salah satu tradisi iman yang telah mengakar kuat di kalangan umat Katolik Atambua dan terus dilestarikan sebagai wujud devosi serta kebersamaan umat.
Prosesi dimulai dari Gereja Katedral Santa Maria Immaculata dan melintasi empat stasi di wilayah sekitar paroki. Dalam perarakan tersebut, umat membawa tiga simbol utama iman Katolik: Kitab Suci, Sakramen Mahakudus, dan Patung Bunda Maria, sambil berdoa, menyanyikan lagu pujian, serta memanjatkan intensi bagi perdamaian dan kerukunan bangsa.
Setiap stasi mengangkat tema yang menekankan pembaruan relasi manusia dengan Allah dan sesama. Stasi I di Lingkungan Mater Dolorosa Asrama Polisi bertema “Allah, Sumber Pembaruan Relasi dengan Diri Sendiri”. Stasi II di Lingkungan Asrama Tentara mengangkat tema “Allah, Sumber Pembaruan Relasi dengan Sesama”.
Selanjutnya, Stasi III di Lingkungan Ratu Rosari Tenukiik bertema “Allah, Sumber Pembaruan Relasi dalam Keluarga”, dan Stasi IV di Lingkungan Santa Elisabet Tenukiik Barat menutup dengan tema “Pembaruan Relasi dengan Allah Sendiri”.
Prosesi berlangsung dalam suasana khidmat serta penuh refleksi, dipimpin oleh para pastor yang telah ditunjuk panitia. Dalam homilinya di Stasi IV, Pastor Paroki Katedral, RD. Agustinus Seran Berek, menekankan makna ziarah sebagai perjalanan iman yang mencerminkan pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.
“Manusia, ciptaan Allah, sering kali memainkan sandiwara dosa dan mengekspresikan kesalahannya kepada Tuhan Yesus. Kita sering menjauh dari-Nya, seolah memahkotai-Nya dengan duri dan memakukan-Nya kembali di salib. Namun Yesus tetap mengasihi, mengampuni, dan mendoakan kita,” ujar Romo Agus.
Ia mengajak umat untuk memperbarui iman dan memercayai bahwa Kristus adalah Putra Allah yang hidup.
Sementara itu, Pastor Pembantu Paroki, RD. Kristianus Fallo, menjelaskan bahwa prosesi Tri Harta Iman memiliki makna teologis yang mendalam.
“Prosesi tiga harta iman Katolik merupakan simbol kehadiran Tuhan yang tidak terpisahkan. Ini menjadi sarana bagi umat untuk semakin mencintai dan menghayati imannya,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan kesempatan untuk memperdalam iman, terutama bagi kaum muda Katolik.
“Saya mengajak umat dan orang muda Katolik untuk menimba kekuatan dari Sabda Allah dan meneladani Bunda Maria, agar iman kita semakin hidup dalam keluarga dan lingkungan masing-masing,” pesannya.
Salah satu peserta, Emirensiana Moi, mengungkapkan pengalaman rohani yang dialaminya setelah mengikuti prosesi.
“Prosesi ini membuat hati saya tenang dan damai. Kami berdoa, membawa intensi pribadi, dan bernyanyi untuk Bunda Maria. Apalagi di bulan Rosario ini, kami semakin mengenal Bunda Maria karena melalui Maria kita menuju Yesus,” ujarnya penuh syukur.
Prosesi Tri Harta Iman ke-37 diikuti oleh para pastor, frater, suster, anggota Polres Belu, panitia perayaan iman, Orang Muda Katolik, Pemuda Katolik, dan ribuan umat Katolik lainnya.
Seluruh rangkaian berjalan dengan tertib dan aman berkat kerja sama antara panitia, aparat kepolisian, serta kelompok kategorial paroki.
Tradisi religius ini kembali menjadi momentum pembaruan iman bagi umat Katolik di Atambua, meneguhkan keyakinan bahwa kasih Allah senantiasa hidup dalam perjalanan Gereja dan umat-Nya.
