Purbaya Serius Bangun Kilang, Impor Minyak RI Tembus Rp350 Triliun per Agustus 2025
Kondisi Neraca Migas Indonesia yang Terus Mengalami Defisit
Sejak tahun 2004, Indonesia telah menjadi negara importir migas. Sebelumnya, Indonesia pernah menjadi salah satu anggota OPEC dan menikmati masa booming migas pada dekade 1970-an. Pada masa itu, keuntungan dari ekspor minyak memberikan kemakmuran serta modal besar bagi pemerintah dalam melakukan pembangunan secara masif.
Namun, kondisi tersebut kini berbeda jauh. Neraca migas Indonesia tercatat terus mengalami defisit. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah impor migas lebih besar dibandingkan nilai ekspor. Pada tahun 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit sebesar US$20,4 miliar. Angka ini terjadi karena nilai ekspor hanya mencapai US$15,87 miliar, sedangkan impor mencapai US$36,27 miliar.
Jika dilihat lebih detail, besarnya nilai impor migas didominasi oleh impor hasil minyak atau minyak jadi senilai US$25,92 miliar. Realisasi impor tersebut meningkat sebesar 5% dibandingkan tahun 2023 yang tercatat sebesar US$24,68 miliar. Sementara itu, untuk komoditas minyak mentah, nilai impornya turun sebesar 7,08% dari US$11,14 miliar (2023) menjadi US$10,35 miliar.
Pada tahun ini, sampai dengan Agustus 2025, importasi migas mengalami penurunan dibandingkan Januari-Agustus 2024. Jumlahnya bahkan cukup signifikan, dari US$24,21 miliar (2024) menjadi US$21,1 miliar (2025). Penurunan ini disebabkan oleh anjloknya importasi hasil minyak dari US$17,21 miliar (Januari – Agustus 2024) menjadi hanya US$15,13 miliar pada periode yang sama tahun ini.
Subsidi Energi yang Terus Meningkat
Di sisi lain, ketergantungan Indonesia terhadap impor migas bertolak belakang dengan peningkatan subsidi energi yang terus-menerus dari tahun ke tahun. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa BBM seperti solar dan diesel masih banyak diimpor hingga puluhan miliar dolar per tahun.
\”BBM tuh—solar, diesel—kita banyak impornya sampai puluhan miliar dolar per tahun. Sudah berapa tahun kita mengalami hal tersebut? Sudah puluhan tahun kan,\” ujar Menkeu Purbaya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Selasa (30/9/2025).
Masalah utama adalah Pertamina belum membangun kilang minyak baru. Purbaya mengungkapkan bahwa Pertamina pernah berjanji akan membangun tujuh kilang baru dalam lima tahun pada 2018. Janji tersebut disampaikan ketika investor China ingin membangun kilang minyak di Indonesia, namun Pertamina harus membeli minyak dari mereka selama 30 tahun sebelum diambil alih. Hanya saja, Pertamina menolak karena sudah berencana membangun tujuh kilang baru.
Sayangnya, setelah tujuh tahun berjalan, Pertamina belum satupun membangun kilang minyak baru. Oleh karena itu, Purbaya meminta DPR mendorong agar Pertamina segera membangun kilang minyak baru saat melakukan rapat dengan Danantara.
\”Jadi kilang itu, bukan kita enggak bisa bikin atau kita nggak bisa bikin proyeknya, cuman Pertamina-nya males-malesan aja,\” jelasnya.
