Stimulus Fiskal dan Surplus Dagang Dorong Kenaikan Rupiah Oktober 2025
Dalam beberapa bulan terakhir, rupiah mengalami fluktuasi yang cukup signifikan akibat berbagai faktor ekonomi dalam dan luar negeri. Namun, pemerintah melalui stimulus fiskal yang dikeluarkan dianggap mampu memberikan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya dalam jangka pendek. Selain itu, langkah-langkah tersebut juga turut mendukung penguatan nilai tukar rupiah.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya bahwa pelemahan rupiah bersifat sementara dan akan segera pulih seiring dengan pertumbuhan ekonomi domestik yang tetap solid. Ia menilai, ketika investor memahami kebijakan yang dijalankan pemerintah, maka rupiah akan segera berbalik arah.
David Sumual, Chief Economist Bank Central Asia (BCA), menjelaskan bahwa stimulus fiskal yang dikeluarkan oleh pemerintah belakangan ini memberikan dampak positif terhadap sentimen pasar. Meskipun demikian, ia menilai bahwa surplus neraca perdagangan pada Agustus 2025 memiliki pengaruh lebih nyata terhadap pergerakan rupiah. Capaian surplus dagang yang baik membantu meningkatkan outlook terhadap kondisi neraca berjalan Indonesia, terlepas dari arus keluar modal asing selama Kuartal III-2025.
Secara data, nilai tukar rupiah di pasar spot melemah sebesar 1% sepanjang September 2025, dari posisi Rp 16.500 per dolar AS pada akhir Agustus 2025, dan ditutup menguat Rp 15 atau 0,09% menjadi Rp 16.665 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir kuartal ketiga 2025. Sejak awal tahun, kurs rupiah spot melemah 3,30% terhadap dolar AS, dengan posisi rupiah di akhir tahun 2024 berada di Rp 16.132 per dolar AS.
Sementara itu, kurs rupiah Jisdor hari ini melemah tipis Rp 12 atau 0,07% menjadi Rp 16.692 per dolar AS. Kurs rupiah Jisdor melemah 1,40% sepanjang September dari posisi Rp 16.461 per dolar AS pada akhir Agustus 2025. Sejak awal tahun, kurs rupiah Jisdor melemah 3,31% dari posisi akhir tahun lalu di Rp 16.157 per dolar AS.
Memasuki awal Oktober 2025, rupiah menutup perdagangan dengan menguat 0,18% atau 30 poin ke level Rp 16.634,50 per dolar AS. Pada hari berikutnya, Kamis (2/10), rupiah ditutup menguat di level Rp 16.598 per dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini membuat rupiah menguat 0,22% dibanding penutupan hari sebelumnya.
David menilai bahwa kombinasi stimulus fiskal dengan kinerja eksternal yang solid menjadi kunci untuk menjaga daya tarik Indonesia di mata investor. Terlebih, kebijakan pemerintah yang pro-cyclical dengan fokus pada pemulihan daya beli masyarakat mampu memperkuat prospek pertumbuhan ekonomi domestik.
Ia mencontohkan program padat karya tunai senilai Rp 5,3 triliun yang baru saja diluncurkan pemerintah. Program ini tidak hanya memperluas lapangan kerja, tetapi juga meningkatkan penerimaan rumah tangga dan daya beli masyarakat secara lebih sustainable. Ini patut diapresiasi karena dampaknya terhadap perekonomian masyarakat sangat berkelanjutan.
