Sulam Angkinan Beludru dan Katun: Inovasi Produk Kampung Sunan
Inovasi Kerajinan Tangan Tradisional di Palembang
Kerajinan tangan tradisional Sulam Angkinan dari Kampung Sunan, Jalan Mayor Zen, Lorong Tanjungan RT 09, Sungai Lais, Kalidoni, kini mulai menunjukkan peningkatan yang signifikan. Warisan budaya ini kian bersinar di jantung Palembang, dengan inovasi yang mengubah cara kerajinan ini diproduksi dan dipasarkan.
Sulam Angkinan, yang sebelumnya dikenal dengan bahan kain beludru, kini berinovasi menggunakan kain katun yang lebih modern, dingin, dan ramah lingkungan. Inovasi ini dilakukan melalui pewarnaan alami yang menggunakan bahan-bahan dari tumbuhan seperti kulit kayu jelawe, manggis, secang, teger, dan tinggi. Teknik ini memberikan hingga 40 warna yang berbeda, sehingga produk menjadi lebih menarik dan beragam.
Ayu, Ketua Kampung Sunan dan generasi keenam perajin Angkinan, mengungkapkan rasa syukur atas peningkatan UMKM di wilayah tersebut. Meski dengan modal terbatas, hasil produksi meningkat secara signifikan. Dalam satu bulan, omzet bisa mencapai Rp5 hingga Rp7 juta. Hal ini menunjukkan semangat pantang menyerah para perajin.
Inovasi ini lahir setelah para perajin mendapatkan pelatihan berharga dari Universitas IGM. Narasumber utama dalam pelatihan ini adalah Sidik, seorang perajin jumputan dari Kelurahan Tuan Kentang. Pelatihan ini memberikan pengetahuan tentang teknik pewarnaan alami yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga meningkatkan kualitas produk.
Produk Angkinan berbahan katun memiliki keunggulan dibandingkan beludru. Kain katun ini lebih dingin dan nyaman saat digunakan, sedangkan beludru tebal dan panas. Selain itu, warna dan dasar kain tidak luntur, bahkan bisa dicuci laundry. Keunggulan ini membuat produk Angkinan berbahan katun mulai diminati pasar, termasuk negara-negara luar yang lebih menyukai bahan yang tipis dan nyaman.
Perbedaan harga antara kain beludru dan kain katun juga mencolok. Kain beludru per meter dimulai dari harga Rp150.000, sedangkan kain katun sulam per meter bisa mencapai Rp250.000 hingga Rp300.000. Harga yang lebih tinggi ini mencerminkan kualitas dan keunikan produk yang ditawarkan.
Semangat perajin di Kampung Sunan terus membara, dengan sekitar 100 warga sekitar terlibat dalam proses produksi. Produk Angkinan yang dihasilkan sangat beragam, mulai dari baju pengantin, tanjak, tas, hingga selempang penyambutan tamu. Prestasi terbesar adalah jangkauan pasar yang semakin luas.
\”Alhamdulillah selempang dari Kampung Sunan sudah sampai ke luar negeri,\” ujar Ayu bangga. Kemarin, Kedubes Australia sudah memakai selendang ini, serta kementerian Malaysia saat peresmian penerbangan langsung Palembang-Kuala Lumpur.
Berbagai motif khas, seperti sulur-sulur, biji pala, kuku kelabang (favorit pejabat), dan kembang dadar, menjadi daya tarik utama. Melihat potensi yang ada, Ayu berharap Sulam Angkinan akan benar-benar go internasional.
\”Ke depan, kami akan manfaatkan tumbuhan di sekitar kita seperti daun pisang, daun mangga, dan pandan sebagai pewarna, tidak hanya mengandalkan bahan yang harus dipesan dari Jawa. Mohon doanya, kami akan gelar pelatihan pewarnaan kain di sini,\” tutup Ayu penuh harap.
