Surat Cinta di Ompreng MBG, Cara Siswa Meminta Menu ke SPPG Palmerah
3 mins read

Surat Cinta di Ompreng MBG, Cara Siswa Meminta Menu ke SPPG Palmerah

Komunikasi Unik Anak-Anak dengan Dapur Sekolah

Di tengah rutinitas harian, ada hal kecil yang menarik perhatian dan memperkaya pengalaman belajar siswa. Di Sekolah Dasar (SD) Borunawati II di Jakarta Barat, setiap hari anak-anak menyampaikan pesan melalui surat kecil yang tersembunyi dalam ompreng makanan bergizi gratis (MBG). Surat ini menjadi jembatan komunikasi antara siswa dan tim dapur SPPG Palmerah.

Pesan dari Anak-Anak

Setiap kali ompreng MBG dikembalikan dari sekolah ke dapur SPPG, sering kali ditemukan secarik kertas berisi tulisan tangan anak-anak. Mereka menulis permintaan atau masukan tentang menu makanan esok hari. Contohnya, “besok mau lauk ayam, jangan ikan” atau “minta sayurnya diganti sop”. Ada juga yang menulis terima kasih, yang mereka sebut sebagai “surat cinta dari anak-anak”.

Menurut Cut Athaya Artawana Tandy, ahli gizi SPPG Palmerah, surat-surat ini sangat membantu dalam mengevaluasi menu harian. “Kami catat, lalu dibahas dalam rapat evaluasi. Jika banyak anak yang tidak suka satu menu, kami cari alternatif lain tanpa mengurangi kandungan gizi,” ujarnya.

Keterlibatan Anak dalam Program MBG

Anak-anak tidak hanya menyampaikan permintaan, tetapi juga memberikan umpan balik yang polos dan lucu. Ada yang menulis panjang seperti menulis surat sungguhan, ada juga yang hanya satu kalimat singkat. Misalnya, “Bu, telurnya enak, besok tambah lagi ya” atau protes karena porsinya dianggap kurang. Hal ini menciptakan komunikasi dua arah antara anak-anak dan tim dapur.

“Kami tidak bisa langsung menuruti semua permintaan. Tapi masukan itu penting agar anak-anak tetap semangat makan. Kalau mereka senang, tingkat konsumsi juga lebih tinggi,” kata Athaya.

Pengalaman Siswa

Nadia, siswi kelas VI SD Borunawati II, mengaku sering menuliskan catatan kecil di omprengnya. Ia merasa senang ketika permintaannya diakomodasi. “Pernah saya tulis minta ayam goreng sama sayur sop, terus minggu depannya beneran ada. Senang banget rasanya kayak didengerin,” ucap Nadia sambil tersenyum malu.

Sementara itu, Rafli, teman sekelas Nadia, bercerita bahwa ia pernah menulis permintaan yang agak nyeleneh. “Aku pernah nulis minta burger, soalnya pengin kayak di restoran. Eh, sama SPPG dibikinin burger sehat pakai ayam. Enak juga ternyata. Jadi kalau mau request tinggal tulis aja di ompreng,” kata Rafli.

Peran Guru dalam Mendampingi Siswa

Kepala SD Borunawati II, Untung Suripto, membenarkan kebiasaan siswa menitipkan “surat cinta” dalam ompreng. Menurutnya, hal ini membuat anak-anak merasa dilibatkan dalam program MBG. “Anak-anak jadi punya rasa memiliki. Mereka senang bisa berkomunikasi dengan dapur yang menyiapkan makanan. Itu membuat mereka lebih terbuka untuk mencoba menu baru,” ujar Untung.

Ia menambahkan, fenomena ini juga membantu guru dalam mendampingi siswa. “Kalau ada anak yang awalnya tidak suka sayur, lama-lama jadi terbiasa karena tahu suaranya didengar,” kata dia.

Makna Lebih Dalam dari Surat-Surat Kecil

Bagi tim dapur SPPG, ompreng bukan hanya wadah makanan, tapi juga jembatan komunikasi dengan anak-anak. Surat-surat kecil itu menjadi pengingat bahwa makanan yang dimasak setiap dini hari bukan sekadar porsi gizi, melainkan bentuk kepedulian terhadap tumbuh kembang generasi muda.

“Rasanya menyentuh sekali. Anak-anak menulis dengan tulus, dan itu jadi penyemangat bagi kami yang memasak sejak jam tiga pagi,” kata Athaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung bersama kami, dapatkan kupon diskon untuk isi ulang game murah! Nikmati fitur menarik kami:

0

Subtotal