Tari Kolosal STQH Nasional Kendari Mengangkat Sejarah Islam Buton dengan 300 Penari
Pembukaan STQH Nasional 2025 di Kendari Dibuka dengan Tarian Kolosal Sila Islam di Buton
Pembukaan Seleksi Tilawatil Quran dan Hadis (STQH) Nasional 2025 di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), berlangsung dengan penuh keindahan dan makna. Acara yang menjadi ajang nasional ke-28 ini digelar di eks MTQ Kendari, Kelurahan Korumba, Kecamatan Mandonga, pada Sabtu (11/10/2025) malam.
Tarian kolosal yang diberi judul Sila Islam di Buton menjadi pusat perhatian dalam pembukaan tersebut. Tarian ini mengangkat kisah masuknya agama Islam di Kesultanan Buton pada abad ke-16, dikemas dalam gerakan tari yang memadukan tradisi dan kreasi khas Sultra.
Koreografer: Mempertahankan Nilai Budaya dan Sejarah
Koreografer tari kolosal, Akbar Tanjung, menjelaskan bahwa pertunjukan ini tidak hanya menampilkan keindahan gerak, tetapi juga menyampaikan nilai sejarah dan budaya lokal. Ia ingin menghidupkan kembali nilai-nilai Islam dan kearifan masyarakat Buton melalui tarian ini.
“Tema kami angkat adalah Sila Islam di Buton, yakni sejarah masuknya Islam di Buton abad ke-16. Kami ingin mengenalkan kembali nilai-nilai Islam dan kearifan lokal melalui tarian ini,” ujarnya.
Akbar mengungkapkan bahwa sebanyak 300 penari terlibat dalam pementasan tersebut. Mereka berasal dari siswa SMK, SMA, dan Madrasah Aliyah di Kendari. Para penari melakukan latihan intensif selama 25 hari, dimulai dari Lapangan SMAN 4 Kendari hingga dua hari menjelang pembukaan di arena utama Eks MTQ Kendari.
“Alhamdulillah, semua tampil maksimal. Sebagai koreografer, saya sangat puas melihat hasil kerja keras anak-anak,” tuturnya.
Menggabungkan Tradisi dan Kreasi Baru
Dalam garapan tari kolosal ini, Akbar memadukan gerakan tradisional Sultra dengan sentuhan kreasi baru tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal. Sebagian besar gerakan terinspirasi dari tari-tarian Buton, termasuk Tari Kalegoa yang merupakan simbol tradisi masyarakat Buton.
“Karena temanya tentang masuknya Islam di Buton, kami banyak mengadopsi gerak-gerak khas Buton, tetapi tetap memadukan ciri khas Sultra agar lebih kaya makna,” ujarnya.
Simbol Warna dalam Tarian
Para penari juga menggunakan sejumlah kain berwarna hijau, putih, dan gold atau emas. Menurut Akbar, warna-warna tersebut memiliki arti yang relevan dalam cerita yang diangkat. Warna putih melambangkan kesucian, hijau sebagai lambang kesuburan dan kemakmuran, serta warna emas menggambarkan kebangsawanan.
“Dari warna kain itu, kami ingin menggambarkan harapan agar daerah ini terus makmur dan masyarakatnya tetap menjunjung nilai-nilai luhur,” ungkapnya.
Tokoh Utama dalam Cerita Tarian
Dalam alur cerita Sila Islam di Buton, ada dua tokoh utama yang diangkat, yakni Syekh Abdul Wahid, ulama yang membawa ajaran Islam ke Buton, dan La Kilaponto, sultan pertama Buton yang memeluk Islam dan menyebarkan ajarannya kepada rakyat.
Gerakan dalam tarian kolosal ini dibuat sederhana agar makna cerita tetap tersampaikan dengan jelas. Akbar menegaskan bahwa yang terpenting bagi dirinya adalah keseriusan. Ia menyatakan bahwa tarian kolosal itu gampang-gampang susah karena jumlah penarinya yang banyak menjadi tantangan tersendiri untuk menciptakan keseragaman.
