Trauma Bisa Ubah Otak: Ini Cara Otak Bertahan dan Pulih, Menurut Psikolog
3 mins read

Trauma Bisa Ubah Otak: Ini Cara Otak Bertahan dan Pulih, Menurut Psikolog

Trauma Bukan Sekadar Luka Batin

Trauma bukan sekadar luka batin yang sulit dilupakan. Pengalaman traumatis meninggalkan jejak nyata pada otak manusia, memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan emosi, hingga merespons dunia di sekitarnya. Di balik reaksi seperti mudah panik, sulit fokus, atau merasa terputus dari kenyataan, tersimpan sistem pertahanan otak yang terus bekerja bahkan setelah bahaya berlalu.

Para ahli menyebut bahwa ketika seseorang mengalami trauma, otaknya beradaptasi secara ekstrem untuk bertahan hidup. Namun, mekanisme yang seharusnya bersifat sementara justru bisa tersangkut dalam ‘mode siaga permanen.’ Hal inilah yang membuat seseorang merasa selalu waspada, sulit percaya, atau kerap menghindari situasi tertentu tanpa sadar.

Perubahan Struktur Otak Akibat Trauma

Trauma tidak hanya memengaruhi emosi, tetapi juga mengubah struktur otak. Ketidakseimbangan fungsi amigdala, prefrontal cortex, dan hippocampus membuat seseorang mudah cemas dan sulit mengendalikan diri. Berikut penjelasan tentang bagaimana trauma mengubah cara kerja otak:

  1. Amigdala yang Terus Aktif, Otak Siaga Tanpa Henti

    Amigdala berfungsi sebagai sistem alarm yang mendeteksi bahaya. Dalam kondisi normal, bagian otak ini hanya aktif ketika tubuh menghadapi ancaman. Namun pada individu yang mengalami trauma, bagian ini bekerja berlebihan bahkan terhadap hal-hal kecil yang sebenarnya aman. Akibatnya, tubuh terus berada dalam kondisi siaga, menimbulkan stres kronis, kecemasan, dan rasa takut berlebih yang sulit dikendalikan.

  2. Prefrontal Cortex Melemah, Sulit Mengendalikan Emosi

    Prefrontal cortex—bagian otak yang berperan dalam berpikir rasional dan pengendalian diri—cenderung melemah akibat trauma. Kondisi ini membuat seseorang sulit membuat keputusan logis, mengatur emosi, dan tetap tenang dalam situasi tertekan. Dalam kondisi ekstrem, bagian ini bahkan dapat ‘mati sesaat,’ membuat pikiran terasa kacau atau kosong ketika panik melanda.

  3. Hippocampus Menyusut, Kenangan Menjadi Kabur

    Hippocampus, yang berfungsi mengolah dan menyimpan memori, dapat menyusut karena paparan stres berat. Inilah sebabnya banyak penyintas trauma kehilangan sebagian ingatan masa lalu atau sulit memproses informasi baru. Selain itu, hippocampus yang terganggu juga membuat otak kesulitan membedakan masa lalu dengan masa kini—sehingga pemicu kecil bisa terasa seperti ancaman nyata.

  4. Terjebak dalam ‘Trauma Loop’ yang Tak Berujung

    Otak dan tubuh bisa terperangkap dalam siklus trauma—fight, flight, freeze, atau fawn. Pola ini terjadi ketika sistem saraf gagal menyadari bahwa bahaya telah berlalu. Akibatnya, reaksi panik, mati rasa, atau perilaku menghindar terus berulang. Setiap kali seseorang menghindari pemicu, otak merasa aman sesaat, namun justru memperkuat lingkaran tersebut, membuat penyembuhan semakin sulit.

  5. Otak Bisa Pulih Melalui Neuroplastisitas

    Kabar baiknya, otak memiliki kemampuan luar biasa untuk memulihkan diri melalui proses yang disebut neuroplasticity. Dengan terapi, latihan kesadaran (mindfulness), gerakan tubuh, serta dukungan sosial, jaringan otak dapat membentuk koneksi baru yang menenangkan sistem saraf. Aktivitas sederhana seperti berjalan santai, yoga, menulis, atau membuat karya seni terbukti membantu tubuh merasa aman kembali.

Kesimpulan

Trauma memang dapat mengubah cara kerja otak, tetapi bukan berarti kerusakan itu permanen. Dengan kesadaran, dukungan, dan terapi yang tepat, otak mampu memulihkan diri serta membangun ulang rasa aman yang pernah hilang. Ingatlah bahwa proses healing atau pemulihan bukan tentang ‘melupakan,’ melainkan belajar bahwa kini, bahaya telah berlalu dan kehidupan bisa kembali dijalani dengan penuh kendali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung bersama kami, dapatkan kupon diskon untuk isi ulang game murah! Nikmati fitur menarik kami:

0

Subtotal