Tuna Tulang Jadi Sumber Pangan Bergizi, Peneliti Unipa Minta Dukungan Pemerintah
Inovasi Pangan Lokal untuk Menurunkan Angka Stunting di Kabupaten Sikka
Kabupaten Sikka di Nusa Tenggara Timur terus berupaya menekan angka stunting yang masih menjadi tantangan serius di wilayah tersebut. Berbagai inovasi berbasis pangan lokal digagas untuk mendukung program pemerintah pusat dalam menciptakan generasi bebas stunting. Salah satu terobosan yang tengah dikembangkan adalah penelitian mengenai fortifikasi tulang ikan tuna.
Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti dari Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Nusa Nipa (UNIPA). Selama ini, limbah tulang ikan tuna lebih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak, mulai dari ikan lele hingga kambing. Namun, penelitian terbaru menemukan bahwa tulang tuna menyimpan potensi besar sebagai sumber gizi mikro.
“Tulang ikan tuna kaya akan kalsium dan fosfor yang bermanfaat bagi kesehatan tulang. Selama ini, pemanfaatannya terbatas untuk pakan,” kata Rosania Euthropia Brigita Conterius, dosen Prodi Sarjana Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Nusa Nipa, dalam talkshow Flores Bicara.
Langkah ini menjadi penting mengingat stunting tidak hanya menjadi urusan pemerintah atau tenaga kesehatan semata. Kesadaran orangtua untuk menyediakan asupan bergizi bagi anak menjadi faktor penentu. “Pemanfaatan pangan lokal sebagai pangan fungsional sangat mendukung upaya menurunkan stunting di Sikka,” ujar Rosania Euthropia Brigita Conterius, salah satu tim penelitian ini.
Lebon Motong: Bubur Kelor Kaya Gizi
Selain fortifikasi tulang ikan tuna, masyarakat Sikka juga mengembangkan produk pangan tradisional bernama Lebon Motong. Dalam bahasa daerah Sikka, lebon berarti bubur, sedangkan motong merupakan sebutan untuk kelor atau moringa. Kelor dikenal luas sebagai “pohon ajaib” karena kandungan nutrisinya yang sangat lengkap. Daun kelor mengandung protein nabati, zat besi, kalsium, fosfor, hingga vitamin A.
“Kelor mampu meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah dan memperbaiki status gizi dari kurang menjadi normal jika dikonsumsi secara rutin,” ujar tim peneliti. Produk Lebon Motong menjadi contoh bagaimana pangan lokal bisa dikemas secara lebih menarik dan tetap bernilai gizi tinggi.
Bagi masyarakat NTT, kelor bukan tanaman asing, melainkan sudah menjadi bagian dari keseharian. Inovasi ini memperkuat pesan bahwa kunci menurunkan stunting sebenarnya sudah tersedia di sekitar masyarakat.
Sumber Daya Melimpah di Kabupaten Sikka
Kabupaten Sikka memiliki potensi besar untuk mendukung gerakan bebas stunting. Perairan Laut Flores menjadi sumber pangan hewani yang kaya protein, sementara lahan daratan menghasilkan beragam pangan nabati bergizi. Kombinasi keduanya diyakini bisa menjadikan Sikka lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.
“Stunting bisa ditekan bila kita serius memanfaatkan potensi lokal. Tidak semua harus bergantung pada pangan dari luar. Justru dari laut dan darat Sikka, tersedia sumber gizi yang lengkap,” ungkap salah satu peneliti.
Dukungan Pemerintah untuk Pengolahan Tulang Ikan Tuna
Untuk pengolahan tulang ikan tuna menjadi tepung, proses yang dilakukan masih sederhana: tulang ikan dikukus terlebih dahulu, kemudian dipanggang, lalu diblender menggunakan blender rumah tangga. “Cara ini cukup memakan waktu dan tenaga karena alat yang digunakan masih sangat sederhana. Jika tersedia peralatan yang lebih besar dan canggih, tentu pengolahannya lebih cepat dan hasilnya lebih maksimal,” ujar salah seorang peneliti di Maumere.
Peneliti menambahkan, dukungan pemerintah sangat dibutuhkan agar riset tidak berhenti di laboratorium. Bantuan dana, pengadaan alat, hingga pembangunan rumah produksi dinilai penting agar hasil inovasi ini bisa ditindaklanjuti oleh pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM).
“Kami butuh dukungan nyata pemerintah, baik melalui fasilitas maupun pendanaan, supaya tulang ikan tuna bisa diolah menjadi produk gizi yang bernilai jual. Dengan begitu, UMKM bisa bergerak, masyarakat memperoleh manfaat gizi, dan angka stunting bisa ditekan,” katanya.
