Wow! Putra Bulukumba Ciptakan Aplikasi Silama: Inovasi Desa yang Bisa Jadi Contoh Nasional
5 mins read

Wow! Putra Bulukumba Ciptakan Aplikasi Silama: Inovasi Desa yang Bisa Jadi Contoh Nasional

Perjalanan Seorang Teknologi di Desa Manyampa

Lampu neon di ruang tamu dalam rumah itu berpendar pucat, memantul di permukaan meja kayu yang penuh tumpukan arsip. Di tengah ruangan yang tenang, suara klik mouse terdengar pelan ketika Basran, Sekretaris Desa Manyampa, Kecamatan Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba, membuka layar laptopnya. Tulisan “Silama” terpampang di layar — sebuah aplikasi dengan ikon yang seolah menjadi jendela masa depan.

“Ini sementara masih kami kembangkan, tapi coba lihat menunya,” katanya kepada ASKAI.ID – Top UP Isi Ulang Game Murah pada Selasa malam, 30 September 2025. Dengan gerakan tangan lincah, ia menggeser kursor, memperlihatkan satu per satu fitur aplikasi yang ia racik bersama tim kecilnya di desa.

Silama, akronim dari Sistem Informasi Layanan Masyarakat dan Administrasi Desa, lahir dari kegelisahan sederhana: urusan administrasi yang seringkali membuat warga lelah mondar-mandir. Dari surat keterangan usaha, surat domisili, hingga izin keramaian — semua biasanya memerlukan waktu, antrean, bahkan kesalahpahaman. Kini, kata Basran, semua itu bisa selesai hanya dengan “sejengkal”. Semua itu tak lepas dari ide, skil teknologi digital, dan sentuhan Artificial Intelligence (AI).

Dalam bahasa lokal Konjo, Silama berarti sejengkal — filosofi yang Basran padankan dengan kecanggihan digital. “Sekarang pekerjaan bisa diselesaikan lewat smartphone. Hanya sejengkal, hanya sejauh layar di tangan atau silama,” ujarnya, sembari mengetuk layar ponsel Android yang ia hubungkan ke proyektor kecil di meja.

Jenis Surat dan Cara Pengajuan

Melalui Silama, warga dapat mengajukan berbagai surat administrasi tanpa harus meninggalkan rumah. Jenis surat yang tersedia antara lain:

  • Surat Keterangan Domisili
  • Surat Keterangan Usaha
  • Surat Pengantar
  • Surat Keterangan Tidak Mampu
  • Surat Izin Keramaian
  • Surat Keterangan Lainnya

Cara pengajuannya pun sederhana:

  1. Daftar/Login – buat akun atau masuk ke sistem.
  2. Pilih Surat – tentukan jenis dokumen yang dibutuhkan.
  3. Isi Data – lengkapi formulir secara online.
  4. Ambil Surat – dokumen dapat diunduh atau diambil langsung di kantor desa setelah diverifikasi.

Basran memberi contoh sederhana: “Misalnya ada pedagang kecil yang butuh surat keterangan usaha. Ia tidak perlu meninggalkan lapaknya seharian, mengeluarkan uang transport dan lainnya. Cukup isi lewat ponsel, sistem langsung memproses, dan warga bisa mengunduh file PDF yang sudah dilengkapi QR Code tanda tangan resmi untuk dicetak sendiri. Kalau tetap ingin salinan fisik dari kantor desa, cukup ambil sesuai notifikasi yang muncul,” jelas Basran.

Fitur dan Harapan

Meski belum rilis dan resmi dipakai publik, ASKAI.ID – Top UP Isi Ulang Game Murah yang mencoba langsung menemukan pengalaman memukau. Antarmukanya ramah pengguna, status pengajuan dapat dilacak, dan dokumen tersimpan rapi secara digital. Sistem ini juga mendorong efisiensi, transparansi, dan mengurangi penggunaan kertas.

Basran mengaku, aplikasi ini masih akan diperkaya dengan sejumlah fitur tambahan, misalnya integrasi pembayaran retribusi dan layanan lainnya. Soal biaya pengembangan, ia jujur membiayai secara swadaya. Saat ditanya jika ada pemerintah daerah yang melirik, Basran mengungkapkan pihaknya sangat terbuka bekerja sama dengan berbagai pihak.

\”Kami terbuka untuk bekerja sama dengan siapa saja. Intinya, aplikasi ini harus benar-benar bermanfaat bagi masyarakat,\” ungkapnya.

Filosofi sejengkal yang melekat pada nama Silama juga bukan tanpa makna. Dalam budaya Konjo, sejengkal melambangkan jarak yang dekat, mudah dijangkau, dan sederhana. “Saya ingin warga merasa bahwa urusan dengan pemerintah desa itu dekat, gampang, dan tidak menyulitkan,” ujarnya lagi.

Sejarah dan Perjalanan Basran

Lampu minyak pernah jadi teman setia Basran Bahtiar Saleh saat remaja di Desa Manyampa. Di kamar sempit dengan meja kayu sederhana, ia kerap menatap layar komputer tabung yang menyala redup. Tahun 2003, komputer itu bukan sekadar mesin, melainkan jendela yang membuka dunia baru bagi seorang anak desa yang haus belajar.

“Waktu itu saya cuma operator komputer di kantor desa. Tidak ada yang mengajarkan secara formal. Saya belajar sendiri, coba-coba,” kenangnya sambil tersenyum. Sejak awal kiprahnya, Basran memang memilih jalan sunyi. Ia lebih senang bergulat dengan teknologi secara otodidak ketimbang mengejar posisi di luar desa. Bahkan ketika ada peluang menjadi PPPK paruh waktu, ia memilih mundur.

“Hati saya tetap di desa. Kalau semua orang pergi, siapa yang mau urus pelayanan masyarakat di sini?” ujarnya. Keputusan itu berbuah. Kini, sebagai Sekretaris Desa Manyampa, ia menjadi motor lahirnya Silama — Sistem Informasi Layanan Masyarakat dan Administrasi Desa. Sebuah aplikasi yang dirancang sederhana namun punya misi besar: memangkas jarak birokrasi antara pemerintah desa dan warganya.

“Banyak warga mengeluh, capek mondar-mandir urus surat. Saya berpikir, kalau smartphone sudah di tangan semua orang, kenapa tidak kita gunakan saja untuk mempermudah?” tutur Basran. Dari pengalamannya selama lebih dari dua dekade berkutat dengan administrasi desa, lahirlah gagasan itu. Ia membiayai pengembangan aplikasi secara swadaya, tanpa sponsor. Hanya keyakinan bahwa sebuah inovasi kecil bisa membawa manfaat besar.

Ketika layar laptop dimatikan malam itu, ruang tamu kembali sunyi. Namun gagasan pelayanan digital sudah hidup di benak siapa pun yang sempat menyaksikannya. Dari sebuah desa kecil di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, sebuah teknologi “sejengkal” digital mungkin bisa menjelma langkah panjang menuju birokrasi yang lebih manusiawi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung bersama kami, dapatkan kupon diskon untuk isi ulang game murah! Nikmati fitur menarik kami:

0

Subtotal