Wakil Presiden Prabowo Buka STQH Nasional, Menko Pratikno: Islam Tidak Bertentangan dengan Ilmu Pengetahuan
2 mins read

Wakil Presiden Prabowo Buka STQH Nasional, Menko Pratikno: Islam Tidak Bertentangan dengan Ilmu Pengetahuan

Peran Islam dalam Kemajuan Ilmu Pengetahuan

Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, mewakili Presiden Prabowo Subianto membuka Seleksi Tilawatil Quran dan Musabaqah Al-Hadits (STQH) Nasional XXVIII di Kota Kendari pada malam hari. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa Islam tidak anti terhadap kemajuan ilmu pengetahuan. Justru, Islam mendorong umatnya untuk menjadi pelopor inovasi yang berakhlak mulia.

Pratikno menjelaskan bahwa Islam pernah menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dunia. Ia mengingatkan bahwa para ilmuwan Muslim masa lalu bukan hanya ahli dalam sains dan teknologi, tetapi juga penghafal Alquran yang mampu memadukan iman dan akal dalam membangun peradaban besar. “Ini adalah bukti bahwa iman dan akal dapat bersinergi dalam membangun peradaban,” ujarnya.

Ia mengajak generasi muda Islam untuk terus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai spiritualitas. Menurutnya, kemajuan harus dijadikan sarana untuk memperkuat syiar Islam di tingkat global. “Kemajuan tanpa akhlak ibarat pedang tajam di tangan orang yang matanya tertutup. Di sinilah Alquran dan Hadis berperan sebagai kompas moral abadi,” tegasnya.

Nilai Spiritual dalam Pengembangan Diri

Menurut Pratikno, Islam tidak pernah anti terhadap kemajuan. Namun, Islam mendorong umatnya menjadi pelopor inovasi yang berpijak pada nilai-nilai akhlakul karimah. Hal ini menjadi penting dalam membangun masyarakat yang seimbang antara ilmu pengetahuan dan keimanan.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menilai STQH Nasional bukan sekadar ajang kompetisi keagamaan. Ia menyebutnya sebagai wasilah spiritual untuk menyemai generasi Qurani yang unggul, tangguh, dan cinta lingkungan. Tema besar STQH kali ini adalah Syiar Al-Qur\’an dan Hadis: Merawat Kerukunan, Melestarikan Lingkungan. Tema ini hadir sebagai jawaban atas tantangan zaman seperti meningkatnya ketegangan sosial dan krisis ekologis.

Nasaruddin menambahkan bahwa Alquran dan Hadis hadir sebagai suara kenabian yang menyeru pada kasih sayang dan harmoni. Ia menekankan bahwa penyelenggaraan STQH juga menjadi momentum untuk menanamkan kesadaran ekoteologis di kalangan umat. Baginya, merawat lingkungan adalah bentuk zikir sosial. Dalam setiap ayat tentang alam terselip pesan keseimbangan dan keadilan ekologis. \”Maka, mencintai Alquran berarti mencintai bumi dan sesama,\” tegasnya.

Pesta Keagamaan yang Melibatkan Banyak Peserta

Ajang STQH Nasional XXVIII digelar di Kendari dari tanggal 9 hingga 19 Oktober 2025. Acara ini melibatkan lebih dari seribu peserta dari 35 provinsi di seluruh Indonesia. Total partisipan, termasuk dewan hakim, pendamping, pelatih, dan pejabat pusat serta daerah, mencapai hampir empat ribu orang.

Acara ini menjadi wadah bagi para peserta untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam membaca dan menghafal Alquran serta memahami Hadis. Selain itu, STQH juga menjadi ajang untuk memperkuat kerukunan antarumat beragama dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan.

Pada acara tersebut, peserta juga diajak untuk merenungkan makna Alquran dalam konteks kehidupan modern. Dengan demikian, STQH Nasional XXVIII tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan penguatan nilai-nilai keislaman yang relevan dengan perkembangan zaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung bersama kami, dapatkan kupon diskon untuk isi ulang game murah! Nikmati fitur menarik kami:

0

Subtotal